Wednesday, 16 Des. 2009

Standard

Aku takut bila harus kehilangannya lagi. Benar-benar aku tak bisa membayangkan hal itu terjadi lagi. Aku bingung bakal mau apa.
Berkali-kali aku telah kehilangan dia. Padahal dia yang selalu menemaniku saat aku membutuhkannya. Dia selalu setia menungguku. Tapi aku nggak selalu bisa menunggui dia , soalnya dia senantiasa di depan pintu. Aku tak bisa menghitung atau mengira-ngira lagi, berapa banyak aku telah kehilangannya. Sungguh menyakitkan, apa lagi pas mama nanya,”Sudah sandal keberapa yang kamu hilangkan, Nak?”
Aku betul-betul lupa berapa sandal yang telah kuhilangkan yau. Yang jelas sudah mencapai puluhan pasang. Sebelum sandal itu tipis pasti keburu hilang. Malang benget yau?
Aku kan mondok di Ponpes Al Falah Banjarbaru. Di pesantren ini tuh para santrinya pada demam bola gitu. Jadi kalau pas lagi jalan kaki tuh nggak bisa diam. Ada aja yang ditendang-tendang. Keganasan kaki santri ini bis a memakan korban berupa batu, kucing lagi nyantai tiduran ato yang pas lagi pup*cyaak…* (suatu suara misterius di alas kaki, hueeek….). Tapi yang paling bikin kesal malah sandalku juga ikut menjadi korban kebiadaban itu.
Kalau nggak teliti dalam meletakkan sandal, wah bahaya tuh. Aku sering naroh sandal di pelataran asrama, pas pengen makai, lho sandalnya tinggal satu. Mana satunya lagi?
Pernah juga aku kehilangan sandal sepulang dari lab. Bahasa. Waktu itu aku menghabiskan sore di situ, soalnya nggak ada kerjaan. Mending nonton film di lab. Yup, aku nyelinap ke lab tanpa seizin dewan guru. Kan kunci lab-nya kalau nggak di aku yah, di teman lainnya, Staf OSIS gitu loh…
Pas hampir magrib aku pengen pulang dan baru sadar kalau sandalku udah nggak ada di tempatnya, huhu… dua-duanya pula. Ini pasti ada yang ngambil dengan sengaja. Belakangan aku liat lagi sandalku yang hilang itu, tapi cuman sebelah doang. Malas ah ngambilnya. Beli lagi yang baru.
Ada juga pas tengah hari aku naro sandal di pelataran asrama secara sembarangan (biasanya aku naronya di bawah pohon kecil di samping pelataran). Aku tidur siang dan bangunnya pukul enam sore (aku kan staf OSIS, jadi nggak kena sanksi kalau nggak sholat berjama’ah). Pas waktu mo make sandal ambil air wudhu, bah, sandalnya tinggal sebelah.
Aku langsung memicing tajam ke arah got. Pasti masuk ke situ dan dibawa arus hingga ke tempat pembuang akhir yang letaknya di area terbuang di belakang Ponpes. Malas ah nyarinya. Beli lagi. Terus begitu. Hilang mulu.
Hingga akhirnya, untuk ke sekian kalinya aku nelpon ortu minta dibelikan sandal, coz ortuku mo mampir ke pondokanku dekat-dekat ini. Jadilah pada tanggal 12 malam minggu aku dibawakan sandal volcon hitam. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan aku takkan membiarkan sandal ini berakhir tragis seperti pendahulunya. Karena sandal ini hitam maka kuberi nama Aswadi
Tapi bayang-bayang kehilangan terus menghantuiku. Malah sudah merabah ke dalam alam mimpiku. Terakhir, hingga postingan ini di pajang, aku sudah mimpi dua kali. Itu belum termasuk halusinasi yang seolah-olah aku kehilangan si Aswad.
Mimpi pertama: Waktu itu aku baru bangun tidur nguap sana nguap sini. Nggak tau kenapa aku mo keluar asrama. Pas mo keluar AHHHHRRGGGHHHHAAHGRRR…….!!! Si Aswad hilang, tinggal sebelah kirinya saja (kiri ato kanan yau, ah pokoknya hilang sebelah!) saat itu juga aku langsung terbangun dari mimpi burukku (kali ini bangun beneran). Hah…hah… tenyata hanya mimipi, sukur deh.
MImpi kedua: Baru malam tadi.Kali ini masih dalam mimpi (ya iyalah namanya juga mimpi). Saat itu aku lagi di aula. Tiba-tiba terjadi suatu huru-hara karena berebut sandal. Aku pun ambil peran dalam huru-hara itu. Tapi aku nggak nemu sandalku. AAAARRGGHHHG….!!! Aku ribut nyari sandalku sambil nyusup-nyusup di antara kaki-kaki orang. Ternyata aku nggak sendirian, temanku yang namanya Azmie juga kehilangan sandalnya.
Lalu secara ajib aku langsung berada di atas trotoar dari kayu yang bercelah. Di antara celahnya aku melihat si Aswad ada di bawah situ.
“Ah, sandalku,” teriakku. Tapi aku nggak bisa ngambilnya. Tanganku nggak bisa masuk ke celah yang kecil itu. Tanpa disadari Nikita Willy, aku ngebenturin kepalaku yang mahal ini ke trotoar itu. Kali aja kayunya patah. Ternyata nggak tuh. Sampai akhirnya aku terbangun. Aku pastikan sandalku masih ada di tempatnya. Oh, masih ada.
Aku sudah bertekad bakal ngejaga Aswad baik-baik. Bahkan tekadku sudah bulat Aswad ini akan kupertahankan hingga hari wisuda nanti (beberapa bulan lagi ujian, trus wwisuda deh). Aku bakal memproteksinya dari segala kemungkinan hilang. Doakan aja moga-moga hubunganku dengan si Aswad tetep rukun dan dapat berkah. Amien.[]

Ilham
Asrama Zaid, 16 Des. 09
Di siang yang mendung

One thought on “Wednesday, 16 Des. 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s