Tikungan Petaka

Standard

Na, sekarang kita sudah berada di tahun 2010. 2009 lalu menyisakan banyak hal. Tapi menurut sebagian orang mengenang adalah buang-buang waktu. Namun tidak adil rasanya jika tidak menyertakan paham yang lain: orang bijak banyak pengalamannya. Itu pun dengan catatan musti bisa mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

Ngomong-ngomong soal pengalaman, aku ada lho satu pengalaman dari hari-hari 2009, yang amat berguna di tahun 2010 ini. Sedikit nyeleweng, seperti yang telah diketahui, akhir 2009 tadi peraturan berkendara mulai dipertegas dan ditambahkan. Di antaranya lampu kendaraan musti nyala, belok kiri ikuti syarat lampu untuk di beberapa persimpangan empat dan spion harus amien (dua-duanya terpasang). Nah, aku ini kalo berkendaraan pasti bawaannya ngayal mulu. Sudah kebiasaan sih… Makanya aku sering lupa ini dan itu, termasuk menjalankan peraturan di atas.

Kalo masalah spion sih nggak papa. Soalnya spion tuh permanen, kalo dipasang ya nggak dilepas lagi. Tapi yang jadi masalah itu ‘belok kiri’ dan ‘lampu’. Nah, dalam menghadapi era yang serba ketat ini, aku harus lebih teliti, salah satunya dalam mengamati rambu-rambu.

Pernah di suatu pagi minggu akhir bulan ramadhan 2009 lalu, aku berurusan dengan yang namanya rambu-rambu. Waktu itu aku berkendara keliling-keliling nggak karuan di area Pantai jodoh dan sekitar Masjid Sabilal Muhtadin (waktu itu belum ada hari bebas kendaraan bermesin). Tau-tau pas melintas dari Pantai Jodoh ke arah Jembatan Merdeka di samping siring Sungai Martapura yang di depan Masjid Sabilal itu, aku melihat trafficlight-nya hijau. Aha, tepat sekali, aku langsung tancap gas, kalau-kalau keburu merah lagi. Bes…. dengan kerennya aku tikung ke kanan! Sumpah, aku nggak nyadar ada rambu-rambu di larang belok kanan di samping trafficlight itu, sekaligus lupa pesan dari bokap: di sini dilarang belok kanan, jadi lurus aja dan mutar di putusan jalan di sana.

Waktu nyebrang itu, aku hampir saja tertabrak kendaraan dari jalur sebelah. Aku pun mendengus dalam hati: yang hijau kan di jalur aku, berarti di jalur dia merah, eh… main terobos aja, hampir aja ketabrak. Massin!

Tanpa sadar aku yang salah, dan tanpa sadar pula polisi yang lagi jaga di pos samping lampu lalu lintas yang kulewati tadi, mengincarku. Aku ngeloyor santai di jalan samping Sabilal, tanpa firasat apapun. Polisinya nggak ngejar dan akunya nggak merasa bersalah. Dan setelah sampai di bundaran, aku belok kanan, menuju bundaran KB dekat kediaman dinas gubernur kita.

Belum lagi melintas bundaran KB. Sekitar sepuluh meter, aku melihat sepasang remaja diberhentikan dua orang polisi, kayaknya sih ditilang gitu. Tanpa kuduga, salah seorang polisi yang menilang itu memberhentikanku juga. Aku pun berhenti tanpa perlawanan yang berarti (wes…). Dalam pikiranku, yah… palingan periksa kelengkapan surat-menyurat. Tenang, aku kan taat dengan peraturan, jadi semua persyaratan sudah kupenuhi.

Waktu aku tepat berhenti di depan polisi tadi, dia nanya temannya lewat walkie-talkie: kendaraan Juviter warna hijau, iya kan? Suara di seberang sana menyahut: iya!

Aku mulai merasakan firasat buruk. Aku telah diincar! Kenapa? Pasti ada alasannya.
“Mana STNK sama SIM kamu?” pinta polisi itu. Aku kasih.

“Kamu tadi habis lampu lalu lintas belok ke kanan kan?” Aku mengangguk.

“Itu pelanggaran. Di situ cuma boleh lurus atau belok kiri.”

“Tadi nggak liat rambunya,” aku nyari alasan, tapi memang beneran nggak liat kok.

“Kalau nggak percaya, coba balik lagi ke sana.” Aku di suruh balik lagi. Ya, aku turutin saja, tanpa menyadari apa yang akan terjadi. STNK dan SIM-ku ditinggal di polisi tadi.

Setelah sampai aku disambut polisi berbadan gede. Lalu aku lepas helm. Polisi itu tersenyum, tapi di mataku itu sebuah ‘bala’.

“Coba liat di samping lampu merah itu. Nah, adakan rambu dilarang belok kanan.” Aku cuman mengangguk hambar. “Iya. Tadi nggak keliatan,” kataku.

“Sekarang keliatan, nggak?Harusnya kamu hormatin rambu itu, bukan malah dilanggar. Ayo sana, beri hormat sama rambu-rambunya, kalau perlu cium sekalian.”

Mati aku! Masa harus melakukan hal semacam itu di pinggir jalan. Seorang polwan tak jauh dari situ tertawa, mungkin membayangkan yang akan kulakukan.

Aku nurut saja. Aku berharap dengan ini polisinya senang dan nggak nilang.

Aku berdiri di pembatas jalan, penghalat dua jalur, dan memberi hormat ke rambu-rambu tadi dengan sok acuh sama tatapan orang-orang. Arrgh… mana pas lampu merah lagi, mobil dan kendaraan pada bertumpuk di zebra crosss, di sebelah kanan dan kiriku. Di balik punggungku melintas sekelompok cewek lagi jogging. “Ih… ada yang kena sanksi,” cemooh seorang dari mereka. Ampun dah…

Seusai hormat, aku cepat-cepat kembali ke polisi tadi, tanpa nyium dulu, ingat dan camkan aku nggak nyium rambu-rambu itu!

“Ya sudah sekarang rambunya benar-benar keliatan kan? Kalau gitu balik lagi ke polisi sana dan pinta sama dia ‘surat cinta’ yang merah itu.” Mendengar itu aku benar-benar merah, arrrggh…. akhirnya kena tilang juga. Apalagi surat yang merah itu kalau buka surat tilang.

Berkat pengalaman itu, aku menjadi lebih bijaksana dalam menikungkan kendaraan.

2 thoughts on “Tikungan Petaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s