Efek Samping Stres (ESS)

Standard

            Susahnya jadi orang dewasa itu banyak masalah, dan masalah itu kakak beradik dengan stres. Belakangan aku mengaku udah dewasa. Yah, paling nggak aku remajalah. Otomatis selain jenggotku makin banyak, masalahku juga ikutan numpuk.

            Kalau sudah banyak masalah plus capek, pasti bawaannya stres mulu. Dari kamar diberantakin orang nggak bertanggungjawab sampai cucian di baskom membukit. Pusing di asrama, cari angin keluar.  Di pintu asrama….. lagi-lagi sandal dikepet kampret! Terpaksa balas ngepet ke lain. Masalah madinglah (aku penanggung jawab mading. Deadline naskahlah. Kiriman ludeslah. Rambut semraut, padahal bentar lagi ada razia rambut. Belum gosok gigi. Tangan kesetrum mulu. Digosipin orang. Kalo kebanyakan makan sakit perut. Tapi kalo nggak minum malah kehausan (oke, dua yang terakhir aku bisa terima dengan lapang dada).

            Kalo udah stres, aku tuh jadi blingsatan bin bringasan. Tapi aku nggak separa Azmie. Temanku dari Negeri Puntik itu, kalo stres bisa makan orang, jadi lebih baik cepat-cepat mengungsi dari pada kena damprat.

            Kalo aku tuh orangnya sabar, ramah, dan manis. Namun sesabar, seramah dan semanis-manis apa pun orang itu pasti punya hidung, maksudku bisa marah juga. Minimal aku melampiaskan kekesalanku kepada benda mati. Salah satu targetnya adalah sandal!

            Pas lagi stres-stresnya, aku sukanya jalan ngesot. Al hasil setelah perdebatan sengit, para ulama fisika memutuskan: daya gesek antara sandal jepit dari karet dengan aspal, maka harus ada salah satu yang kalah.  Dalam kasus ini sandal lebih lunak dari pada aspal, berarti sandal keluar sebagai pekalah.

            Aku pun berduka lara setelah mengakui fatwa ulama fisika ini. Sandalku jadi lebih cepaat tipisnya. Ini ESS yang pertama. Namun sukurnya, aku sempat mengambil kesimpulan yang berharga: kestresan seseorang dapat diukur dari kecepatan menipisnya sandal miliknya.

            Pernah juga saking stresnya, aku jadi sakit perut (iyah, ngaku, tadi pagi kebanyakan makan). Tujuan selanjutnya adalah WC. Aku pun  mengenakan kostum kebangsaan. Sarung yang dipakai secara horizontal, menutupi bagian pusar ke bawah, kaos oblong, menutupi pusar ke atas, serta gayung yang tangkainya patah.

            WC terdekat dari asrama berjarak 10 meter. Namyanya WC 10, coz box-nya ada 10 buah. Tapi sayangnya di sini nggak ada operatornya, jadi mau ngapain juga nggak bakal ada yang ngeluarin. Aku jalan ngesot. Sampai WC aku masuk dan bantin pintu. Blam! (orang stres emang bawaannya gitu). Lalu terdengar bunyi-bunyian menakjubkan dan suara air, byur….byur…. Selesai.

            Aku buka pintu. Macet. Ada apa ini? Aku lebih keras narik pintnya. Tetap nggak kebuka. Aku sisipkan tangan ke celah pintu bagian atas yang renggang. Sekuat tenaga menarik, sampai-sampai kaki mendongkrak ke tembok. Pintunya masih diam. Aku pernah liat TV dan baca novel, tokohnya terperangkap di lift dan tempat keren lainnya. Tapi aku…aku…kekkunci di WC! Kenapa juga tadi pake acara banting pintu segala.

            Akhirnya pintu WC bermurah hati seusai perjuangan kerasku menarik pintu dari celah bawah. Tadi menariknya pake pose nungging, jadi pinggang encok, dan telapak tanganku memerah, hampir luka. ESS ketiga.

*****

            Malam itu aku capek banget. Baru nyelesain masang tikar asrama. Sedari siang tadi aku banyak menuai protesan atas beberapa tugasku yang mengecewakan, menurut mereka. Aku mulai pusang. Tiba-tiba aku mendadak pengen pipis (tiap stres, bawaannya ke belakang mulu. Jangan-jangan ada hubungannya?)

            Waktu itu sudah tengah malam. WC 10 itu keliatan angker banget. Habis, letaknya di pojokan sih. Lagi pula aku was-was, gimana rasanya kekunci di WC angker tengah malam begini.

            Terpaksa nyari WC lain, lebih jauh. “Mana jauh, hujan lagi!” saat itu gerimis turun. Aku jalan blingsatan di atas trotoar dari ulin, di bawahnya got. Tapi kali ini nggak ngesot, aku jalan menghentak-hentak. Bagiku bunyi derak teriakan ulin itu adalah sebuah pelampiasan dan braaak….!

            Yess, kakiku sukses nyungsup ke got. Ulinnya jebol, belubang. Landauku lecet parah dan dalam hitungan detik darah keluar lumayan banyak. Kurasakan sendi di pangkal pahaku ngilu, akibat hentakan. Aku musti meneruskan pengembaraan ke WC, mengingat ini emergency, mana mungkin aku pipis di sembarang tempat. Gerimis pun membasahi luka perih.

*****

            Belakangan ini, sesudah beberapa moment terjadi, aku melampiaskan kestresanku dengan tidur. Alasannya sederhana: lebih aman.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s