The Legend of 10 (part II)

Standard

                Hari sudah agak siangan, pukul 10 waktu setempat. Grand Canyon benar-benar surga bagi yang ingin back to nature. Kebetulan Ilham duduk di kursi dekat jendela. Dia jadi busa leluasa melihat dari jendela  bus di samping bahu kirinya, tebing-tebing yang eksotis sekaligus angkuh.

                Bus berderak dengan kecepatan sedang (bahkan mendekati rendah) di atas jalan beraspal yang zig-zag, kiri-kanan. Ilham membuka meja lipat yang menempel di sandaran kursi di depannya. Lalu dia letakkan di situ netbook bercorak Marsupilami. Dia mengetik sedikit tentang Grand Canyon, lumayan hitung-hitung nyicil jurnal backpack-nya.

                Stretching 277 miles across northern Arizona, the Grand Canyon ranges in elevation from 2,400 feet to over 7,000 feet above sea level. In places, it is up to one mile deep and over 18 miles wide, while some of the canyon’s majestic plateaus to the north rise to 9,000 feet above sea level. . The scenery is spectacular, and is a must see for anybody.

                Cukup. Setelah netbook dihibernate-kan, Ilham segera menutupnya. Inilah kelebihan dari netbook yang khusus diperuntukkan bagi backpacker-backpacker suatu travel agency mapan. Dalam netbook ditanamkan hardware cool hell berbahan elemen yang dapat me-coolent tingkat panas  apabila  netbook kepanasan. Sebagai backpacker, tentunya sering buka-tutup netbook di sembarang tempat. Entah itu di bawah pohon atau dalam toilet.

                Dulunya memang dalam pencatatan jurnal hanya bermodal buku catatan, namun perkembangan multimedia sangat mencolok, sehingga semua profesi yang bersangkutan dokumentasi tak lepas dari yang namanya netbook atau sejenisnya.  Karena itulah netbook backpacker disertakan coolhell di bawah keyboard. Sehingga bisa langsung ditutup tanpa menunggu netbook dingin sampai 10 hingga 15 menitan. Soalnya jika dipaksakan ditutup dalam keadaan masih panas bakal mengurangi resolusi layar.

                Akhir-akhir ini banyak bermuculan backpacker yang ingin menjelajah, namun enggan menggunakan jasa travel karena ingin merasakan tantangan di negeri orang dan terperangkap di zona asing. Jika mengandalkan jasa travel, tentu akomodsinya dijamin, dengan kata lain pasti buia balik lagi ke negeri sendiri, dan pulang tepat waktu tanpa adanya kesempatan berleha-berleha ke tempat yang lebih banyak lagi, soalnya segala sesuatu sudah diatur travel agency yang bersangkutan.

                Perusahaan jasa travel menyisiasati ini, dengan memperkerjakan backpacker untuk survei lapangan dengan cara backpacker, tanpa campur tangan travel ke beberapa kota dan negara yang rating wiastanya tinggi, dengan biaya semurah-murahnya. Dan selanjutnya backpacker travel ini menuliskan jurnal penjelajahannya, jalur transportasi termurah dan kota apa saja yang dapat dikunjungi dalam kurun waktu yang se-efisien mungkin,  beserta kemungkinan terburuk yang sering terjadi sekaligus pilihan solusinya. Lalu jurnal itu dibukukan sebagai bahan referensi backpacker yang ikut training. Jurnal itu pun tidak baku, cuma sebagai tawaran.

                Wah…. Dari jendela bus, Ilham melewatkan sebuah danau dengan permukaan beriak damai. Entah mengapa danau itu mensugestinya untuk turun di situ.

                Bus merangkak lagi setelah menurunkan Ilham di bahu jalan.  Dia kenakan kacamata rayban, soalnya silau matahari. Celananya tiga perempat di bawah lutut berwarna hijau lumut. Sedangkan sepatunya bersol tebal dengan gerigi yang sangar.

                Dia pun melompati batu-batu besar, menuju danau yang agak menjorok ke dalam hutan.  Danau berdiameter 15 meteran ini dikepung oleh bebatuan alam raksasa dan pohon-pohon cemara yang diramaikan burung-burung. Di pojokan terdapt air terjun mini setinggi dua meteran. Rupanya itu pelaku yang menimbulkan air ini beriak.  Ilham melongok ke danau. Dasarnya kelihatan, berupa batu-batu kecil dan pasir.

                Transparent,” komentarnya sambil mencelupkan tangan. “Dan sejuk.”

                Dia pun segera melaksanakan niat jahatnya. Banting bag pack, lepas sepatu, bongkar pakaian, berenang! Bah, dia adalah penggila renang sejati.

                Tapi gerakannya terhenti sewaktu melepaskan kaos oblongnya, dan perlahan mengembalikan posisi kaos yang sempat terangkat setengah.

                “Perasaan ada yang kurang.” Dia nengok ke  bag pack yang ditelantarkannya di atas batu besar. Dia periksa  isinya. Baju celana ada. Paspor dan kawan-kawan ada. Sleeping bag juga ada. Krim anti panas dan dingin masih ada. Pokoknya semua ada.

                Lalu dia  menerawang, dan mulai tergambar di atas kepalanya: benda banyak tombol, punya layar 8 inchi, pake touchpad yang sering nyetrum telunjuknya. Netbook!

                Dia bedah habus-habusan bag pack-nya. Positif, nggak ada.  Pasti bakal dimarahin atasan lagi, soalnya dia juga pernah menghilangkan netbook di Colusium Roma dua bulan yang lalu.

                Ilham mengingat-ingat, waktu dalam bus yang ditumpanginya tadi, dia ngetik bentar, netbooknya ditaruh di atas meja lipat .

                “Ah, iya lupa dimasukin ke tas.” Ini karena tekad berenangnya membuat dia lupa pas melihat danau tadi. Segera dia berpikir mengejar bus tersebut. Pasti belum begitu jauh. Soalnya busnya lambat. Dia buka resleting bag bagian samping. Sebuah sketboard lipat, hadiah dari pacarnya waktu kuliah di IAIN Antasari. Dia selalu membawa papan itu kemana-mana, aneh memang backpacker membawa barang semacam itu, tapi saat begini berguna juga. Selain berenang dia juga peluncur yang cukup handal. Setelah merentangkan papan luncur, dia  putar tuas dekat engsel, supaya pas papan jumping, papannya nggak terlipat.

                Ilham kembali melompat-lompat di batu-batu, jalannya semula, menuju pinggir jalan.  Benar, bus tadi masih kelihatan di ujung jalan. Dia tempatkan board-nya ke atas aspal, dan melompat ke atasnya, sejurus kemudian, wusss…

                Sekarang bus menikung ke kanan, dan hilang di balik tebing terjal yang menjulang angkuh. Ilham harus lebih cepat lagi, jika tidak ingin diomelin  Pak Rustam, manajernya untuk yang kedua kalinya.

                Hampir saja Ilham menikung ke kanan, tiba-tiba dari arah yang berlawanan meluncur mobil Ford metalik. Berhubung Ilham jalannya agak ke tengah dan kurang cepat menyadari si Ford sebab terlindung tebing, terjadilah tabrakan. Syukurlah Ilham cukup gesit melompatdari board-nya  ke atas kap mobil dan terus hingga ke bagian atap, tapi si pengemudi terkejut dan langsung injak rem mendadak, sehingga keseimbangan Ilham goyah dan jatuh ke belakang mobil. Sikunya berdarah.

                Aahh…”ringisnya. Si pengemudi segera keluar. Pria  jangkung.

                “Sorry….,” ucapnya gugup campur bingung, apakah dilanjutakan menggunakan “sir” atau “boy”. “Are you OK? I Will keep you to the clinic now if you are hurt. The hospital is distant from here ,” tawarnya, tapi bernada perintah.

                “Oh, thanks. It’s  ok,” sahut Ilham ramah. Salah dia juga sih, meluncur serampangan.

                “Anda dari Indonesia?” tanya si pengemudi tadi dengan bahasa indonesia, setelah melihat fisik Ilham. Yah, paling nggak dia orang melayu, batin pengemudi itu.

                 Lho, kok tau? Jangan-jangan yang nabrak gue atau tepatnya yang gue tabrak tadi orang indonesia juga, pikir Ilham yang dari tadi menunduk memerhatikan lukanya. Segera dia mengangkat wajahnya.

                “Iya, saya dari Indo….” Jawabannya tersangkut di kerongkongan.

                “Ilham?” Spontan si pengemudi melontarkan nama itu, seakan tidak percaya, bertemu kawan lamanya di sini.

*****

                Jauh dari situ, Indonesia, ibu kota kalsel, Banjarmasin. Malam itu Qori terlibat pembicaraan serius dengan Ihsan.

                “Lo itu kan bankir, masa  nggak bisa,” rengek Qori kayak anak ingusan minta permen.

                “Bukan masalah bisa atau nggaknya, tapi gue nggak mau berdosa, apa lagi sampai masuk LP, titik!” tegas  Ihsan.

                “Ck, musti berapa kali gue bilang,”dengus Qori kesal. “Lo nggak bakal gue libatin sejauh mugkin, lo cuma perlu duplikat nih kartu dan tutup mulut, selesai. Selanjutnya semua serahkan ke gue, dijamin beres tanpa cacat. Lo tau kan, gue yang sekarang  bukan seperti gue yang dulu lagi, gue teliti, Men.” Qori mendoktrin Ihsan.

                Tapi, itu kan uang orang,” ucap Ihsan  innocent.

                “Eerrghh…” Qori hampir saja ingin mencekik makhluk di hadapannya ini. “Berapa kali gue bilang, yang gue bajak itu orang korup, jadi itu bukan duitnya, tapi duit orang sebangsa mereka.” Qori menunjuk gembel-gembel yang berkeliaran dekat tokonya.

                Ihsan mikir-mikir lagi.

                “Ya udah, terserah lo aja, mau bantu ato nggak,”ucap Qori. “Gue cuman mau bantu mereka, dan gue nggak ngambil seperser pun dari hasil itu, kecuali biaya operasional doang.” Qori melanjutkan pelan banget,”Dan sedikit upah.”

                “Gue masih bisa makan dari hasil toko DVD gue.” Mulai dah  curhat.”Nggak hanya makan, beli mobil gue juga mampu.”

                Qori memang membuka toko  DVD, DVD bajakan. Kata orang, kapan Indonesia  bisa maju kalau pembajak-pembajak menjamur di mana-mana. Namun Qori tidak merasa bersalah, lho wong film yang dia bajak juga hasil bajakan dari dari film lain, hanya sedikit mengubah alur cerita. Tapi tetap saja membajak itu salah.

                Meskipun  toko DVD menjamur di mana-mana, toko Qori tetap yang paling ramai pengunjung. Soalnya, film-film  DVD Qori kualitasnya bagus, bukan hasil dari layar bioskop yang di kamera ulang. Cara mendapatkannya dari suatu situs.

                Sebetulnya situs tersebut tidak disediakan fasilitas download, hanya sebagai sampel, jika ingin melengkapi koleksi, tinggal beli lewat rekening. Namun file film yang diterima, setelah registrasi  itu ber-extension “.dcp”, sebuah extension atau format baru, yang  tidak bisa digandakan (copy).

                Bukan Qori namanya kalau tidak bisa menyisiasati hal sepele ini. Dia pakai pihak ketiga, dengan begitu dia bisa  free download.

                Hasil dari download-an itu pun sama dengan download berbayar, sama-sama berformat  .dpc, tidak dapat digandakan. Namanya juga Qori, pasti punya akal bulus. Dia masukkan file.dpc itu ke software converter (pengubah format). Software tersebut sudah dilenkgapinya script atau sejenisnya, semacam plug in gitu, biar file.dpc bisa masuk ke converter dan keluarnya format“.vob” yang busa dibaca DVD Player.

                Jadi film-film di kepingan DVD yang dijual Qori bebas dari layar bergerak-gerak aneh, blank mendadak, serta tiba-tiba ada penampakan siluet manusia berjalan yang kebelet ingin ke toilet.Rumit memang, tapi dengan begitu dapat menarik kepercayaan konsumen. Selain itu dia burning (masukkan) juga ke DVD yang dijualnya, aplikasi anti copy, buat jaga-jaga agar  filmnya nggak dibajak dan digandakan ulang oleh pihak lain.

                Namun tetap saja trik  ini punya kelemahan. Satu dua orang atau lebih ada pembajak jenius (PJ). PJ  tidak menggunakan perintah copy, send to apalagi cut, untuk mentransfer  file film ke harddisk, soalnya perintah itu sudah disable (nonaktif) jika dilihat dari klik kanan. Namun sebagai pengganti perintah tersebut, PJ pakai converter. Kronologinya: -masukkan file film dari DVD Qori ke converter. –Atur format file hasil convert tetap format .vob. –Dan terakhir, atur output (tempat hasil convert diletakkan) ke komputer, desktop misalnya.

                Tampaklah di desktop file film yang nggak bisa digandakan tadi. Kalau sudah begitu tunggu apa lagi, tinggal burning (ke DVD sebanyak-banyaknya.

                Back to toko Qori.

                “Gimana?”

                “Yah, gue pertimbangkan,” jawab Ihsan. Intonasinya aneh, seperti menutupi keantusiasan. Qori tahu paling Ihsan sulit menolak kerjasama  untuk kebaikan, walau jalannya rada-rada salah.

*****

                Ilham berhasil merebut netbooknya, berkat kawan lama di sebelah kanannya ini. Bus itu terkejar oleh Ford metalik  dan memotong laju bus. Ilham, masih dalam ford, balik lagi ke danau, bagpack-nya tadi dia tinggal di situ.

                “Nggak nyangka bakal ketemu di sini,”ujar Aya.

                “Sama. Pantesan aja gue keliling Banjarmasin nggak pake helm, spion dua-duanya nggak ada, nopol dilepas lagi, langgar rambu-rambu, selalu bukan lo yang nilang.”

                “Heh?” Aya menatap Ilham bingung.

                “Iya, bukannya habis lulus dari Al Falah lo pengen sekolah polisi gitu. Gue kira lo jadi polantas yang niup-niup pluit ama ngibas-ngibasin kayu power rangers yang bisa nyala itu, hahaha…”

                Aya ikut ketawa-ketawa, dan satu kebiasannya yang nggak hilang: kalau ketawa sukanya mukul-mukul lantai. Jika lantainya kotor dai mukulin orang di dekatnya. Jika lantai kotor dan orang di dekatnya sangar, dia mukul-mukul apa saja entah itu tiang, tembok atau apalah. Yang penting ada yang busa dipukul.

                Dalam kasus kalil ini, dia mukul-mukul kursi yang didudukinya. Ilham menggeser posisi duduknya. Jangan-jangan kaki gue lagi yang bonyok, batinnya.

                Sejenaknya Aya melupakan setirnya, dan segera disadarkan jurang .

                “Oi, lo lagi nyetir,”tegur Ilham. Sigap Aya meraih setir.

                Ada tempo sunyi. “Di sini, di sini!!” ujar Ilham. Aya injak rem.

                Ilham mengambil bagpack-nya. Aya heran.

                “Buset, mau ngungsi ke mana, Mas. Kayak backpacker aja.”

                “Emang backpacker,” sahut Ilham. “Utusan travel,”lanjutnya.

                Ilham melempar bagpack ke jok belakang dan dia sendiri duduk di samping Aya.

                “Sekarang lo mau ke mana?” tanya Aya.

                Up to you. Hari ini gue udah bebas tugas , tinggal bikin jurnal terus kirim via  e-mail, selesai.”

                Aya diam sebentar, menentukan arah.

                “Udah… ke rumah lo  aja. Sekalian gue mau  liat istri lo. Cantik nggak.” Ilham menyikut Aya.

                Aya terkekeh. “Rumah gue bukan di sini, dan gue masih perjaka, dodol!”damprat Aya.

                “Terus lo ngapain terdampar di sini?”

                “Gue cuman berlibur doang. Rumah gue di Las vegas, tapi mulai minggu depan gue pindah ke LA. soalnya gue dipindahtugaskan ke sana.”

                “Tugas?”

                “Divisi kriminal,terang Aya. “Mungkin lebih akan beratdari sebelumnya. Lo taukan LA. kota penuh dengan kriminal. Gangster, mafia.”

                Jadi lo beneran jadi polisi?” Ilham meyakinkan.

                Yo’i.” Aya mengangguk. Mobil terus berjalan.

                “Polisi kriminal Los angeles?”

                “He-eh.” Mobil semakin cepat.

                “Yang pakai seragam ato yang yang jas itu,” kejar Ilham.

                “Pakai seragam jas,” jawab Aya mulai bete.

                “Pistolnya gimana? Apa peralatannya canggih? Kayak James Bond gitu ya?”

                “Iya, kayak James Bond. Miriiiip banget malah. Pokoknya apa yang lo liat di James Bond, itulah gue. James Bond itu niru gue!” sahut Aya asal. Kenapa ya gue baru sadar teman gue ini rese banget, atau gue yang jadi aneh kelamaan di negeri orang, batinnya.

                “Uuuuh…. Jadi lo sering kebut-kebutan sampai mobil penyok  jadi kayak beca itu, mantaaap!”

                Aya garuk-garuk kepala, dikiranya serius ya? Mana ada polisi sampai segitunya ngejar penjahat. Yang lebih diutamakan itu keselamatan warga sipil. Ilham benar-benar terobsesi dengan yang namanya aksi semacam itu, biasa korban film action.

                Action? Aya jadi teringat sesuatu.

                “Ei, Ham, gimana kalau kita ke LA. Tapi singgah ke Las Vegas dulu di Nevada, kerumahku,”usul Aya.

                “Ngapain ke LA. gue udah sering ke situ, nama gang-gangnya aja gue hapal.”

                “Sombong lo. Mentang-mentang backpacker. Lo boleh hapal seluk-beluk LA tapi bukan berarti lo bertemu dengan semua orang LA kan?”

                Aya ambil napas. “ Gue pengen lo ketemu dengan seseorang di sana. Pokoknya lo bakal jantungan. Hidup orang ituberubah drastis, ah, pokoknya lo liat aja ntar.”

                “Emangnya siapa?” Ilham jadi penasaran. Lagi pula dia masih ada masa break selama setengah bulan, sebelum kembali terbang ke negara wafer tango, Itali. Masih bisa keliling bareng Aya.

                “Orangnya…. memilih jalan hidup yang…” Aya menerawang bingung. “Anu, ah, pokoknya ntar lo juga tau. Yang musti lo persiapkan…” Aya mengetuk kepala bagian pinggir dengan telunjuk, “… cuma mental untuk kemungkinan terburuk pas l ketemu orangnya.”

*****

                “Hasyim!”

                Laki-laki itu menggosok-gosok ujung hidungnya.

                “Siapa lagi bicarain gue? Maklum orang terkenal ,”dengusnya di atas meja café di pinggiran pantai daerah Santa Monica, Los Angeles. Sepatu kotornya membuat jijik sepasang ABG yang lagi bermesraan, sekaligus kaget karena tiba-tiba ada orang main loncat aja ke meja mereka.

                “Oh, sorry. Gue nggak liat ada orang, hehe…” Dua ABG itu bingung dengan bahasanya, yang pasti mereka tahu, laki-laki tadi minta ma’af.

                 Setelah menyadari di belakangnya lima  orang berpakaian berandal masih mengejarnya, laki-laki dengan sweater itu melesat di antara meja-meja restoran outdoor dan para pejalan kaki yang memadati Santa Monica. Wilayah kota sebelah barat ini memang terkenal dengan 3rd Street Promenade yaitu sebuah jalan yang khusus untuk pejalan kaki yang ramai dengan toko dan restoran, serta pantainya yang indah.

                Salah satu dari lima berandal itu mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jaket dekilnya. Tapi tidak lama setelah itu dia roboh secara misterius. Laki-laki bersweater tadi tersenyum, di jarinya terselip tiga jarum.“Baru make satu.”

                Laki-laki tadi kembali lari dengan mendengarkan instruksi dari headset yang tesemat di telinga. ”Giring aku ke tempat yang aman dari orang banyak, di sini nyawa banyak orang terancam” pintanya.

                Tak lama dia sudah berhasil lepas dari orang banyak. Sekarang di sekelilingnya cuma gedung-gedung dan gang-gang suram. Laki-laki itu baru pertama kali ke sini. Orang-orang tadi masih betah mengejar.

                “Di ujung jalan itu, belok kanan,” kata pemberi instruksi. “Sampai jembatan lihat ke bawah di situ sudah ada Marco menunggu dengan truk bak terbuka. Anda loncat saja ke bak tepung itu,”lanjutnya.

                 Pas sampai di ujung jalan, laki-laki itu pun langsung belok ke kiri dan dia terkejut melihat jalannya buntu. Terhalang  tembok menjulang tinggi di antara dua gedung.

                “Mana jembatannya?!”dampratnya ke mic mini.

                “Kata saya belok kanan, tapi Tuan beloknya ke kiri,”protes instruktur tak mau disalahkan.

                “Aduh kenapa gue jadi oon gini, masa kanan dan kiri aja ketukar,“salak Azmie dalam hati. Dia harus bertarung sendiri, Marco terlalu jauh dari situ, tak ada waktu menunggunya. Satu lawan empat orang besar-besar. Yeah!

To be continued…

4 thoughts on “The Legend of 10 (part II)

  1. Haiii buat yang sukaaa banget koleksi tas dan sadar bahwa tas adalah harta yang paling berharga buat perempuaannn? ;)Yuk main ke http://www.ipopscollections.com… di sana kamu bakal dapetin beragam tas branded dengan harga murah. dari merek Louis Vuitton, Prada, Gucci, Chanel, Tod’s, Hermes dll ada di sini.Reseller are welcome… dapatin juga harga khusus buat reseller🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s