The Legend of 10 (Part III)

Standard

Oleh: ILham Kudo

Di labirin LA Azmie seperti tikus kecil, terperangkap. Sisi kanan-kiri Azmie diapit dua gedung tua, di hadapan terhalang tembok dari bangunan lain, selain itu di balik punggungnya, jalan dia masuk ke bilik ini, telah diblokir kawanan Marginal Street (MS).
Azmie berbalik. Di hadapannya berdiri empat orang. Tampang mereka memandang rendah Azmie.
“Innalillahi wa innalillahi roji’un,” reflek Azmie.
Seorang dari MS yang berdiri di belakang terkesima. Pria arab itu sangat mengenal dengan ucapan Azmie barusan. Dia maju ke depan.
“Are you Arabian?”tanyanya nggak penting.
Lebih nggak penting lagi, Azmie malah menyahut. “No. I’m Indonesian.” Semakin nggak penting lagi ditambahnya, “from Puntik City.”

Jones, orang yang kelihatannya sebagai senior, menarik mundur Rosyid, orang arab itu.
“Very urgent,” cemooh Jones. “Up to you, are you Arabian or puntikian, accede with kami now!”
Saat itu gelap mulai turun. Penerangan kurang layak di pinggiran kota ini. Sunyi. Sangat berbedsa dengan Disneyland. Di sini bukan tampatnya manusia, inilah toilet umum bagi anjing jalanan Los Angeles.

“I’m reject!” Datar suara Azmie.
“Ha…ha… ini bukan tawara, tapi perintah. Jaga nyawamu, bangsat!”
Mata jones nyalang. “Simpan senjata kalian. Makhluk ini harus ditangkap hidup-hidup.” Tangannya mengisyaratkan agar anak buahnya menyerang. Aksi pertama ditampilkan seorang berdarah Thailand dengan thaiboxing.
Dari kuda-kuda orang itu, Azmie mengenal seni bertarung lawannya kali ini.
“Gerakan kaku, menitikberatkan serangan pada otot dan tentunya satu kali serangan telak bakal meremukkan tengkukku,” gumamnya. “But sehebat apapun lawan asal bisa mengelak, semuanya nggak lebih berbahaya dari makan cemilan.”
Dengan sekali hentakan kaki, pengguna thaiboxing itu telah berada di balik punggung Azmie. Dia mengincar tengkuk! Pukulannya dari atas ke bawah, vertikal. Azmie bergeser sedikit ke depan. Meleset.
Azmie bukan sekadar mengelak, namun sekaligus menciptakan jarak agar dia mudah menaiki dan menginjak dada orang thai itu sebagai pijakan. Setelah itu Azmie melesat ke tembok dan menempel di sana dengan membentangkan kedua kaki dan tangan. Jarak kedua tembok itu cuma 1 meter.
Orang thai itu hanya terjajar sedikit. Dia mengibaskan pasir yang mengotori bajunya.
“Wah….wah… kayaknya injakanku tadi nggak ada apa-apanya di otot yang lo pelihara bertahun-tahun itu.” Ucap Azmie sembari tersenyum. “Tapi sekekar apapun tubuhmu, di dalamnya tetap ada aliran darah kan?”
Orang thai itu agak cemas dengan ucapan Azmie barusan. Wajah Azmie berubah mengerikan. ”Kuperingatkan, jangan sekali-kali meremehkan hutan borneo. Hutan itu menyimpan banyak binatang yang nggak kau temukan di amazon sekali pun! Bagaimana rasanya laba-laba batu dari pinggiran Sungai Amandit itu? Lo beruntung nggak perlu jauh-jauh ke Indonesia untuk mencicipi efek sengatannya.”
Orang thai itu merasakan ada yang salah di pahanya. Ada jarum tertancap! Setelah sepersekian detik, sekujur kakinya kesemutan hingga dia tidak bisa merasakan kakinya lagi. Kemudian kesemutan itu menjalar ke seluruh tubuh. Kaku. Dia rubuh ke tanah, kejang-kejang. Hanya ujung jari tangan, kelopakmata dan bibir yang dapat digetarkannya. Bola matanya berakhir sampai akhirnya lutot (lumpuh total).
“Hoi-hoi, ada apa 43?” Tanya Mathius, seorang MS yang lain, dengan menyebutkan serial number milik orang thai itu. Jones manatap tajam ke Azmie.
“I don’t know,”tukasnya tanpa diminta.
Azmie berniat kabur. Dia tekan pelatuk pistol ke atas. Bukan timah yang keluar, melainkan tali berdiameter 2 cm, ujungnya terdapat jangkar kecil. Jangkar itulah sebagai pencengkeram ke sudut atap gedung. Setelah menarik-narik, menguji kuat cengkeraman, dia tekan pelatuk pistol sekali lagi. Mekanis katrol dalam pistol bekerja, menarik kembali tali. Azmie pun terangkat ke atap.
“Bull shit!” umpat orang arab hendak mengejar. “Mundur, bodoh! Dia berbahaya. Jaga jarak!” Jones memperingatkan.
Terpaksa jones mengeluarkan pistol bermaksud melumpuhkan Azmie. Untuk mangsa yang wajib ditangkap hidup-hidup, Jones tidak mengizinkan anak buahnya menggunakan pistol. Soalnya terkadang mereka ugal-ugalan. Pengecualian dirinya dan Gonzalez, seorang sniper handal. Namun sayang, Gonzalez rubuh di Santa Monica. Mungkin sama dengan 43, akibat jarum yang dilumuri racun.
Pistol Jones dilengkapi laser bidikan. Pilihan target ada tiga: kaki Azmie, tangan, atau tali yang membawanya. Azmie hampir sampai ke atap. Makanya, tidak cukup waktu melepaskan lebih dari satu peluru. Cuma satu kali kesempatan. Jika ditembak kakinya, mungkin Azmie masih bisa kabur ke atap, jika salah satu tangannya , masih ada tangan yang satunya. Tapi jika sasarannya tali yang mengangkut Azmie, dia bakal jatuh ke tanah dan apapun bisa dilakukan oleh Jones.
Setelah pertimbangan itu, bidikan laser mengarah ke tali yang berayun-ayun. Walaupun sulit, Jones yakin dapat melakukannya. Matanya menyala. Pandangannya bagus. Setiap pagi dan sebelum tidur dia rutin minum jus wortel yang telah dirangsang dengan campuran kimia, stimulus sneaper.
Meski di sini gelap matanya cepat beradaptasi.
Psyu…. Suara pistolnya hampir nggak kedengaran, di moncongnya tersumpal peredam. Peluru menembus tali dan tertumbuk ke tembok, berasap. Tali putus. Azmie jatuh ke bawah. Kepalanya di bawah, kakinya di atas. Posisi terbalik ini membahayakan kepala dan lehernya. Segera dia membetulkan posisi, kemampuan parkour memutar tubuh di udara.
Selagi di udara dia lemparkan bola kecil ke hadapan Jones. Bola tersebut pecah dan asap yang terkurung di dalamnya lepas menyeruak. Kabut memenuhi sekat, tempat pertarungan itu.
Sebelum sampai ke tanah Azmie menendang tembok. Dia tidak lagi jatuh secara vertikal, tegak lurus. Namun rencong ke arah Jones dkk. Sampai ke tanah Azmie berguling untuk mengurangi tekanan jatuh. Dia kenakan kacamata selam yang dilengkapi infrared. Tampaklah tiga sosok merah bergelombang ditengah kabut, panas dalam tubuh yang ditangkap infrared.
Dia sarangkan tiga tusuk jarum ke tubuh mereka dan membuat jarak setelahnya. Asap buyar. Pemandangan yang tersisa: 4 orang tumbang dan Azmie yang duduk bersila di tanah sambil ngupil.
“Padahal belakangan ini stok laba-laba itu menipis.” Azmie memulai curhatnya yang menyebalkan. “Tapi gara-gara Tuan kalian ini sok agresif, terpaksa….” Kata-katanya gantung dan tangannya menengadah seadanya, dahi mengerut.
Azmie sekilas memerhatikan Jones. Dia menghargai kemampuan membidiknya. Tapi sayang otaknya nggak mendukung. Harusnya dia sadar Azmie adalah seorang parkourdan modal utamanya ialah kaki. Andai saja yang ditembak Jones tadi kaki Azmie, mungkin benar dia masih bisa sampai ke atap. Tapi apa jadinya kalo kakinya cedera? Itu sama saja Azmie terperangkap di atap. Paling nggak dia kesulitan kabur. Ha itu yang nggak dipikirkan Jones.
“Kabar gembiranya, kalian cuma lumpuh. Soalnya membunuh bukan hobiku. Mau tau hobiku? Ah, kayaknya aku lumayan terkenal di gank kalian, tahulah hobiku apa.”
Azmie bangkit. Dia tenteng pistol milik Jones yang peredamnya sudah dilepaskan dan berjalan keluar sekat agak menjorok ke kota. Dia tembakan ke langit bekali-kali hingga peluru habis. Desing peluru menggema-gema di langit. Setelah itu pistol dia lemparkan ke dalam lorong dan berucap,”bye-bye….”
Berselang beberapa menit mobil patroli datang. Para polisi segera mengamankan MS, buronan yang dicari-cari selama ini.
Di lain tempat seseorang berjalan sambil bersiul. Tembakan ke udara tadi cuma sebagai pemancing polisi. Dia tahu bahwa Jones dkk. masuk daftar wanted, otomatis jika dia menghubungi polisi dan melaporkan MS, urusannya bakal panjang. Polisi nggak percaya begitu saja, soalnya banyak penelpon nggak jelas iseng menghubungi polisi tentang pelaporan buronan ini.
Azmie menengok arlojinya,”12 Februari.”
Kali ini serasa mencekam. Di lidah antara kadar manis dan pahit dari coklat, lebih kontras pahitnya. Yang dipandang dari mawar bukan lagi romantisnya, melainkan durinya, menakutkan. Tak sedikit remaja di beberapa Negara enggan dekat-dekat dengan dua benda itu. Padahal jelas-jelas hari itu valentine’s day.
“Ayolah honey, masa kamu mau merusak valentine kita hanya karena sebuah mitos,” Jacob, pria bermata biru itu, suaranya agak memaksa.

“Jacob, sudah kukatakan ini bukan mitos, tapi pemberitaaan.” Marlyne bersikeras.
“Iya, pemberiataan bodoh,”kilah Jacob.
Marlyne membuang muka dan balik lagi menatap Jacob. “Dari majalah actually, sayang. Kau tau ‘kan majalah macam apa itu? Terupdate dan paling akurat seluruh dunia. Bahkan yang fanatik menganggap isi pemberitaan di majalah itu sebagai firman tuhan!”
“Dan kau temakan begitu saja?”tuding Jacob. “Itu hanya berita dari orang yang nggak pernah mendapatkan coklat di hari valentine, makanya dia benci valentine.”
“Ah, Jacob kanapa kau baru sadar kau itu keras kepala?” Rambut Marlyne diamuk angin pantai. Waktu itu mereka duduk di atas selasar jalanan kayu yang menjorok ke pantai.
“Bukannya kau yang keras kepala?” Jacob membalik. “Cuma makan coklat ini sebagai perlambang kau mau jadi valentineku, apa susahnya?!”
“Please, tolong ngerti aku. Aku cinta kamu, aku mau jadi valentine kamu, tapi aku nggak mau makan coklat itu, aku takut Jacob.” Lirih Marlylne.Matanya berkaca-kaca. “Aku khawatir bagaimana jika pemberiataan coklat beracun itu benar, dan benda di tanganmu itu termasuk target terorisnya.”
Melihat Marlyne menangis, bukannya menenangkan, Jacob malah naik pitam.
“Dasar cengeng!” hardiknya kesal.
Demi mendengar ucapan tajam Jacob barusan, Marlyne menoleh ke arah Jacob. Dia turun dari selasar dan berdiri tepat di hadapan Jacob. Matanya menatap nggak percaya. Bibirnya berkali-kali bergetar, ingin ngomong, tapi tercekat di kerongkongan. Jacob tambah kesal, “Apa lagi?!”
“Kayaknya kita udah beda.” Akhirnya kata itu melucur dari mulut Marlyne. “ Kau begini dan aku begitu. Kelihatannya kau lebih mencintai tradisi valentine yang kau anut ketimbang pacarmu ini.”
Marlyne benggigit bibir bawah. “Aku harus pulang.” Marlyne pergi. Dia pura-pura nggak nangis .
Jacob ikut turun dari selasar. Padahal dia ingin mengejar, tapi sifat ego dan gengsinya membekukan kakinya.
“Sial!!!” Dia tendang selasar, kesal.
“Anak cengeng! Kau kira orang akan mati hanya karena makan ini!” teriaknya, ditujukan kepada Marlyne.
“Kalaupun coklat ini beracun, kenapa ada di pasaran? Polisi Negara ini nggak akan membiarkannya, polisi Negara ini hebat,” teriaknya lagi, kacau.
Jacob belum puas. “LIhat Marlyne, coklat ini kumakan!” Jacob membuka bungksus dan menguyahnya beringas. “Dan besok aku masih bisa menggandeng wanita lain di hadapanmu!”
Saat itu Jacob tidak sadar bahwa teroris sesungguhnya lebih pandai atau tepatnya lebih licin dari polisi. Kita lihat, berapa kunyahan lagi yang mampu Jacob lakukan?
*****
Media sangat cepat dalam menyebarkan opini publik. Radio, televisi dan internet bahu-membahu mnyampaikan ke telinga orang-orang di seluruh dunia. Bahkan astronot AS yang selama beberapa bulan di luar bumi ikut tahu.
Azmie Cloud belum mandi. Dia jadi uring-uringan berhubung pemberitaan tentang pembantaian di Hari Valentine. Puluhan ribu jiwa di beberapa negara tewas. Mayoritas dari kalangan remaja. Penyebab kematian dari virus yang terdapat di kondom, kalium sianida terganas yang pernah ada tercampur dalam coklat, serta mawar hasil manipulasi reaksi kimia yag apabila wanginya dihirup menimbulkan paru-paru cepat lelah hingga akhirnya sulit bernapas.
Teroris, seperti biasa dituduhkan kepada orang muslim. Opini publik murahan, menurut Azmie. Dia pun masuk blacklist agen pemerintah. Fotonya telah jelas terpampang di media. Dia telah dijebak! Dan juga rambutnya acak di foto itu, belum mandi.
Di televisi, Columania Nanimo, pemred Actually, curhat kepada wartawan. “Dia benar-benar menekan saya dengan sesuatu yang tidak bisa saya katakan kepada pers. Waktu itu dia memastikan actually bakal musnah dan keluarga yang terlibat di actually hancur jika permintaannya tidak dikabulkan. Saat itu saya benar-benar kacau, apa lagi kebetulan sedang flu.”
Wartawan semakin antusias memakankan mic ke Nanimo. “Apa yang Anda pikirkan saat itu? Apakah Anda mengira berita yang dipaksa pelaku menjadi deadline media actually itu serius atau tidak?”
“Tentu saja saya menduga itu cuma kebohongan belaka. Soalnya seandainya benar actually pasti menangkap signal lebih dulu. Dalam pikiran saya, ini pasti berita bohong yang dimaksudkan untuk menghilangkan kepercayaan orang kepada Actually. Jika Actually memberitakan racun yang terdapat di kondom, coklat, dan mawar telah berbaur di pasaran di hari valentine, lantas itu tidak terbukti, kepercayaan orang kepada Actually akan berkurang bahkan sampai hilang.”
“Tapi pada kenyataannya, berita itu benar-benar terjadi. Apa tanggapan Anda terkait perkara ini?”
“Yah… saya tidak tahu harus berkata apa. Mungkin benar kata mereka yang fanatik , isi pemberitaan di Actually itu seperti firman tuhan.”
“Apakah pelaku yang mendatangi kantor Anda itu adalah orang di balik pembantaian ini?”
“Saya tidak bisa memberikan jawaban sebelum semuanya jelas. Pokoknya apa yang dimuat di Actually itulah kebenaran,”ucapnya setengah promosi. “Saya kira cukup sampai di sini. Masih ada kerjaan di lain.“ Nanimo menangkupkan tangan dan masuk ke dalam mobilnya.
“Satu pertanyaan lagi….” Nanimo mengacuhkannya.
Di hadapan televisi Azmie menggerutu menyaksikan pemberitaan tadi. Tanggal 12 Februari lalu dia memang mengancam Nanimo supaya memuat berita yang dibuat olehnya sendiri dan itu pun perintah dari pemerintah dunia sendiri.
Tetapi setahu dia itu cuma sebatas kebohongan untuk mengendalikan sifat kebinatangan di hari valentiene. Bukan rahasia lagi, di bulan valentine penjualan kondom melunjak naik. Dan tingkat aborsi sekitar 9 bulan sesudahnya meningkat.
Sebab itu Azmie ditugaskan membuat opini publik. Actually dipilih Azmie sendiri sebagai media untuk menyampaikan opini ke seluruh dunia. Opini tersebut hanya untuk menakut-nakuti para remaja di seluruh dunia kepada seks bebas. Dan coklat pun ambil bagian dalam praktek seks ini dengan mensugestikesenangan dan gairah pada pemakannya.
Tidak ada sedikit pun racun yang dilepaskan. Murni opini bohong.Namun ternyata…. Pasti ada sesuatu yang bergerak di balik pembantaian massal ini.
Sebetulnya Azmie adalah agen pemerintah, namun berbasis illegal. Pemerintah memang memilki intelijen setingkat NASA, CIA, tetapi mereka bergerak dengan hukum. Lantas apa jadinya jika musuh yang ingin dijatuhkan pemerintah kelewat pintar? Hingga saking pintarnya hukum pun tidak dapat dijeratkan kepada mereka. NASA hanya bisa bungkam.
Maka dari itu pemerintah menggunakan prajurit yang bergerak tanpa asas hukum untuk melumat musuh itu tanpa peduli batas-batas hukum yang berlaku. Bukankah tidak selamanya yang yang legal itu benar? Soalnya, hukum bisa dimanipulasi, hukum milik orang kaya.
Di televisi ditayangkan kembali seseorang analisisator sedang mengadakan semacam jumpa pers terkait kasus pembantaian valentine.
“Antara pelaku yang mendatangi kantor actually dan pembantaian ini jelas ada benang merah. Namun kita belum mengetahui secara gamblang keterlibatan dia di pembantaian ini, apakah sebagai pelaku pembantaian itu sendiri atau sedang terlibat konflik dengan pelaku pembantaian sebenarnya, karena dari itu dia melaporkan pembantaian ini lebih dulu sebelum terjadi.” Pria berkacamata bulat dengan wajah oval itu mengambil napas. Di hadapannya ramai mic.
“Tapi dari sedikit data yang telah kami peroleh, kemungkinan besar ini adalah trik yang memanfaatkan rasionlitas. Maksudnya, pelaku actually itu pura-pura berbaik hati dengan mengabarkan sebuah berita besar, seolah ingin mencegah. Hal itu untuk menghilangkan kecurigaan padanya atau tepatnya kepada kaumnya. Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa umat islam itu agama keras dan suka dengan budaya teroris?” Meski kalimat ‘islam’ disensor, Azmie tetap dapat menebak.
“Shit! Kenapa identitasku ketahuan sampai sejauh itu?!” Tapi Azmie sadar, untuk mendapatkan informasi begitu bagi mereka segampang melemapar batu kecil.
Televise beralih kepada wawancara singkat dengan orang penting dari divisi antiteror LA.
Orang penting itu tidak kelihatan tangguh. Namun ada sesuatu yang menarik di matanya dan tingkahnya.
“Saya sebagai kepala baru di wilayah ini, memastikan tidak akan mengecewakan kasus pertama. Bagi saya ini adalah sambutan hangat dari cecenguk LA.”
Azmie syok. Dia sering diburu FBI, sesama agen pemerintah dan itu biasa, tidak sampai sesyok ini. Tapi kali ini dia diburu teman lama, temannya sendiri!
Azmie merinding saat melirih “Aya?”

 

One thought on “The Legend of 10 (Part III)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s