Money is Time

Standard

Percaya atau tidak, dengan uang seseorang bisa saja membeli waktu.

Time is money.
Pepatah di atas telah diperdengarkan dari dahulu. Aku tidak tahu sejak kapan. Yang jelas ketika lahir ke dunia ini, pepatah ini sudah ada.
Apakah pepatah ini betul?
Aku tidak akan menjawab apa-apa. Namun sepertinya aku harus diizinkan sedikit bercerita.

Andi berada di Banjarbaru dan dia orang yang bingung karena kebanyakan uang. Sementara Toni berada di tempat yang tidak jauh dengan Andi tetapi dompetnya sangat mengharukan. Kedua orang ini bermaksud sama: ingin pergi ke Surabaya .

Sesuai ekonomi masing-masing, Andi mengudara dengan pesawat dan Toni mengair dengan kapal laut.
Secara besaran nominal jika dikalkulasikan oleh anak kecil sekalipun, maka Andi mengumpan uang lebih tinggi.
Jika dihitung waktu yang dihabiskan Andi yang mengudara dan Toni yang mengair, hasilnya berbeda. Andi lebih cepat daripada Toni. Andi hanya perlu waktu 55 menit untuk sampai ke Surabaya, di lain sisi Toni menghabiskan waktu selama kurang-lebih satu hari-satu malam.
Seorang anak ingusan dapat menarik suatu kesimpulan: dengan uang, Andi dapat membeli waktu kurang-lebih 23 jam + 5 menit yang tidak bisa dibeli Toni.

Untuk orang yang “time is money” dari dulu dan sekarang telah banyak uang, mereka suka bilang )kendati tidak menggunakan mulut): money is time.

Siapa mereka?
Banyak.
Tapi kebetulan aku teringat orang-orang berdasi di ruangan ber-AC. Aku mengira mereka suka membeli waktu, yang seharusnya mereka habiskan waktu tersebut di balik jeruji.

2 thoughts on “Money is Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s